Tidak ada kata terlambat untuk Cinta
Tidak Ada Kata Terlambat untuk Cinta
By : R.H Amran
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, terkadang dia segera ke pasar membantu orang tuanya tapi terkadang juga dia bermain dengan sahabat dekatnya Adit dan Sony.
Adit dan Sony adalah tetangga sebelah rumah dan sekaligus teman sekelasnya. Arumi lebih senang berteman dengan mereka terutama murid laki laki daripada murid perempuan karena ada beberapa murid perempuan sekelasnya yang sering mengejeknya setiap hari karena Arumi adalah anak pasar. Dan menurutnya murid perempuan hanya suka bergosip dan mengurusi masalah percintaan, Arumi tidak suka itu, lebih baik dia berlari keliling lapangan dari pada mengobrol dengan mereka.
Arumi tidak seperti murid perempuan yang lain yang suka mengagumi murid laki laki dari kelas lain atau teman sekelasnya. saling menjodohkan antar teman sekelas, arumi benci itu.
" Arum, tahu ga sony suka sama siapa?kan kamu teman dekatnya?pasti tahu kan? "
" siapa yah?" dengan nada jengkel arumi berlalu meninggalkan anak anak itu.
Dari kejauhan dia melihat Sony dan Adit, seketika itu dia berlari dan mengagetkan mereka.
" Tahu ga Son, Amel dari kelas sebelah nanyain tuh kamu suka sama siapa?"
" Suka ? Aku lebih suka makan bakso! ayo kita ke kantin!"
mereka bertiga tertawa terbahak bahak hingga membuat anak anak perempuan itu cemberut.
Mereka melahap bakso dengan cepat karena waktu istirahat hampir habis. setelah melahap bakso dengan cepat mereka berlari menuju kelas, di depan kelas telah berdiri wali kelas dan seorang murid baru.
"Cepat Masuk!" Ucap bu guru dengan nada marah
" Oh ya Arumi, jangan lupa lap saus yang masih menempel di pipimu!anak perempuan kok gitu"
Arumi hanya bisa terdiam mendengar guru memarahinya.
" Diam Semua, dengarkan yah ini ada murid baru pindahan dari Jakarta! Silahkan perkenalkan diri!"
" Assalamu'alaikum, nama saya Muhammad Farid Ashari, saya baru pindah kesini karena Ayah dipindahtugaskan kemari. salam kenal yah teman teman"
" Ashari duduk di samping Sony, Sony tolong bantu Ashari yah jika dia kesulitan"
" Baik bu" Jawab Sony
Ashari menuju bangku sebelah Sony, dan terus saja memandangi Arumi
" Hi, Aku Sony "
" Hi, boleh tanya sesuatu?"
" Tanya apa?"
" Siapa nama murid yang tadi masuk denganmu"
"Adit"
"Bukan, maksudku yang murid perempuan?"
"Oh...Arumi"
"Oh namanya Arumi, orangnya secantik namanya"
Sony tertawa lepas hingga membuat semua temannya memandang ke arahnya
"Kenapa Son?"
"Maaf Bu, ga pa pa"
" Tahu ga sih, baru kamu as yang bilang Arumi cantik"
" Memang dia cantik kok"
" Yang cantik tuh sana, yang duduk di paling depan pojok kiri, namanya Tasya, pintar lagi!"
"Ahh...masih cantik Arumi"
Sony hanya bisa geleng geleng kepala, mendengar ucapan Ashari yang dari tadi terus memuji Arumi
Bel pulang sekolah terdengar, Adit dan Sony berlari ke arah Arumi meninggalkan Ashari.
"Ayo, Arum kerjain tugasnya di rumahmu aja yah, nanti sore habis Ashar" ucap Adit
" Oke"
Ashari mencegah mereka dan menyapa Arumi
" Hi, namaku Ashari, biasa di panggil Hari atau Farid juga ga pa pa" Ucap Ashari dengan menatap Arumi
" ya aku tahu, kan sudah perkenalan" jawab Arumi cuek
" tapi kan aku belum tahu namamu?" ucap Ashari
"loh kan tadi sudah ku kasih tahu Har" celetuk Sony
" Namaku Arumi, Oke" Ucap Arumi dan terus berlari meninggalkan mereka
" Tunggu Ar" teriak Sony
" Jangan lari cepat cepat Ar, kita ga bisa ngejar, kayaknya si Ashari naksir kamu deh"
"Ngawur, kita ini masih kelas 2 SMP mana boleh cinta cintaan"
" kan cinta monyet ga pa pa"
" hahahhahah..Ga lucu Son"
"Terus rambut kayak sarang tawon gitu!Aduh ga dech"
"dia keturunan India loh"
"Masa sih, Bukan dari sebelah timur negara kita kah? Sudah ah ga usah di bahas ga penting"
Sampai di rumah Arumi mengganti pakaian dan goreng tempe bacem yang sudah di sediakan ibunya, lalu dia makan dengan lahap dengan sambel kecap. setelah itu dia bergegas ke pasar membantu orang tuanya berjualan
" Arumi nanti habis Ashar pulang yah bu, mau kerjain tugas sama Adit dan Sony!"
"ya ga pa nak, maunya tadi ga usah kesini, ga capek jalan kaki terus"
"ga lah bu, kan kaki arumi kuat"
" Ibu tidur siang aja dulu, Arumi yang jaga, biasanya kan ga terlalu banyak yang beli kalau siang"
" Ya anak pintar"
Meskipun Arumi jarang belajar dia tergolong cerdas karena selalu masuk peringkat 5 besar, Ayahnya selalu bilang " Kita ini, keturunan orang pintar, jadi pasti selalu dapat juara" kata kata itu terus memotivasi Arumi setiap dia malas belajar.
Setelah Ashar Arumi kembali ke rumah, di depan rumah nya sudah berdiri 2 sahabatnya yang sudah sedari tadi.
" Dari tadi?"
" iya..."
"Ayo masuk, ini aku bawain bakwan dari pasar"
Orang tua Arumi berjualan bakwan dan tahu bakso goreng di pasar yang tidak jauh dari rumahnya. jadi Arumi bisa selalu bolak balik ke pasar, ke tempat orang tuanya berjualan.
mereka menyelesaikan tugas mereka sebelum maghrib, Adit dan Sony pamit pulang. tidak lama kemudian orang tua Arumi pun pulang dari pasar, Arumi membantu membawa bawaan ibunya dan menaruh di atas meja makan.
" Itu sisa jualan dari pasar, bakwan nya ga habis, bagikan ke tetangga sebelah yah ar"
" Ya bu!"
Sisa jualan mereka selalu di bagikan ke tetangga, jadi jualan mereka selalu baru, mereka berprinsip untuk terus menjaga kualitas makanan yang mereka jual. agar pelanggan mereka tidak lari.
pada malam harinya, Arumi selalu membantu ayah dan ibu nya membuat tahu bakso yang akan di jual keesokan hari nya kalau bakwan ibunya selalu membuat adonannya setelah di pasar agar sayurannya tidak layu.
Arumi berangkat sekolah dengan berjalan kaki sendirian, kalau Adit dan Sony selalu di Antar oleh Ayah mereka. Dari kejauhan terdengar bunyi klakson mobil.
"Arumi, ayo ikut" ucap Ashari dari dalam mobil
" Ga usah aku lebih suka berjalan, terimakasih"
" Ayo lah, aku ga akan menculikmu"
"Ga usah Har, terimakasih"
" Stop Pak, Aku turun sini saja"
Arumi mempercepat langkahnya dia tidak tahu kalau di kejar oleh Ashari dari belakang.
" Cepat banget sih, jalan nya!"
" Kamu yang lambat"
" kok ketus banget sih, nanti cantikmu hilang"
"Ih......."
Arumi berlari cepat masuk kelas, meninggalkan Ashari.
" apa sih si sarang tawon tuh, ngiutin aku terus"
"siapa sarang tawon?"tanya Adit heran
"Ashari" jawab Sony
"Kok sarang tawon sih"
"ga lihat tuh kepala nya gimbal"
" ada ada ajah kamu Ar"
Ashari terus memperhatikan gerak gerik Arumi, yang membuat Arumi begitu risih. setiap ada Ashari dia selalu menghindar dan berlari ke tempat lain
Suatu Hari, pada jam 7 malam
" Assalmu' alaikum "
"Walaikum salam, masuk dit, ibu panggilkan Arumi yah"
" gini bu, saya mau minta izin ajak arumi ke tempat fotocopian soalnya sudah malam saya takut sendirian"
"oh ya ga pa pa, silahkan"
" Arumi, temanin Adit sebentar nak, ke fotocopian, nanti ibu yang lanjutkan cuci piringnya"
" iya baik bu"
Tanpa mengganti pakaian dia menemani Adit menuju fotocopian, disana sudah ada Sony, Amel, dan Puji.
"Kalian disini?"
"Ya Ar..kita mau kerumah Ashari, katanya mamahnya lagi bikin soto. kita dipanggil kesana"
" ga ah..aku ga mau kesana"
"sebentar aja, rumahnya di atas bukit itu"
dengan bersikeras Arumi menolak tapi ajakan mereka terlalu menggiurkan, sampai depan rumah Ashari mereka menekan bel dan segera masuk satu persatu ke dalam rumah Ashari. Melihat rumah Ashari yang besar membuat langkah Arumi terhenti dan memperhatikan sandal jepit merah yang sudah terkoyak yang dia pakai dan baju terusan yang sudah pudar warnanya. Dia melihat pakaian Amel yang bersih dan terawat. Seketika hati nya begitu kecil, dan tidak berani melangkah masuk.
Dari dalam rumah terdengar Ashari menanyakan dirinya
" Dimana Arumi?"
"Di luar Har"
Ashari mendatangi Arumi yang terdiam di luar.
" Arumi, ayo masuk!"
Ashari memegang tangan Arumi, dengan keraguan Arumi melangkah masuk dan menyapa ibunya Ashari.
"Assalamu'alaikum bu, saya Arumi" ucap Arumi dengan senyum yang dipaksakan.
"Oh ini yang namanya Arumi, cantik yah!"ucap ibunya Ashari
"benerkan bu?" ucap Ashari
"Iya nak?" jawab ibunya
"Ayo di makan jangan malu malu, hari ini hari ulang tahun ku, maaf mengundangnya dadakan" ucap Ashari mempersilahkan teman temannya makan"
Arumi hanya terus terdiam dan memperhatikan apa yang di kenakannya, baru kali ini dia benar benar minder dengan penampilannya. Selesai makan mereka pamit pulang, Ashari mencegah Arumi dan memberinya sebuah kotak kecil berwarna pink.
Dalam perjalanan pulang Adit dan Sony meminta maaf kepada Arumi karena membohonginya, dia mengatakan harus melakukan itu, karena permintaan Ashari yang harus membawa Arumi jika kerumahnya. selama perjalanan Arumi terus menyembunyikan kotak kecil yang di berikan Ashari padanya. Dia tidak ingin membuat teman temannya heboh dengan pemberian Ashari itu. Sampai di rumah dia tidak langsung membuka kotak kecil itu, dia sama sekali tidak penasaran dengan pemberian Ashari, dipikirannya hanya terbayang suasana di rumah Ashari tadi, bagaimana hatinya begitu kecil, tanpa terasa air matanya menetes. membandingkan apa yang dia kenakan begitu buruk. Arumi terbilang anak yang tidak pernah menuntut apapun pada orang tuanya dia hanya membeli baju baru saat hari raya tiba. Tapi baru kali ini dia merasa seperti itu.
Setiap hari, Ashari selalu mengganggu Arumi dengan berbagai cara.
" Sudah lihat isi nya kah Ar?"
" belum!"
"kenapa?"
"Lupa"
"Ga suka yah"
"Ga pa pa"
Arumi berlalu meninggalkan Ashari yang bertanya tanya dengan sikap Arumi yang tidak ceria seperti biasanya. Sekarang Arumi tidak lagi dekat dengan Adit dan Sony. Arumi menjauh karena Adit dan Sony selalu mencoba mendekatkan Arumi dengan Ashari. Arumi benar benar tidak menyukainya. hanya sesekali saja Adit dan Sony mengajaknya ke kantin, sekarang arumi lebih dekat dengan Puji teman sebangkunya yang pendiam.
Ulangan kenaikan kelas 3 dimulai, mereka semua fokus dengan pelajaran mereka karena jika sudah kelas 3 SMP, harus siap siap selalu ikut try out untuk kelulusan SMP.
Saat pembagian raport selesai. Arumi di tarik oleh Adit dan Sony, menuju kelas mereka, ternyata disana sudah ada Ashari.
" Kenapa, bawa aku kesini?"
"Aku mau tanya Ar!"
" Tanya Apa?"
" Nilai Bahasa Inggris mu bagus kan?"
" Ya, aku dapat A"
"Kalau gitu apa artinya I Love You"
" Aku Cinta Kamu lah, masa gitu aja ga tau!" Arumi menjawab dengan wajah polosnya.
"Aku juga cinta kamu Ar, jadi sekarang kita jadian kan?"
" Ih SGM" Arumi berlari keluar kelas
Ashari hanya terdiam mendengar jawaban Arumi.
" Emang nya SGM apa?"
"Masa kamu ga tahu Har, SGM itu Sinting Gila Mereng"
penolakan itu menjadi gosip terhangat dan bahan olokan untuk Arumi dan Ashari sepanjang semester 1 kelas 3, Ashari perlahan tidak lagi menunjukkan minatnya pada Arumi, yang membuat arumi bertanya tanya kenapa sikap Ashari berubah dan dia mulai merasa bersalah pada penolakan yang dilakukannya kala itu.
Akhirnya, Arumi membuka kotak kecil pemberian Ashari itu, kotak itu berisi sebuah pin bergambar Artis idola Arumi, yang saat itu tergolong benda langka. Ashari mendapatkan pin itu dari Ayahnya yang waktu itu sedang tugas ke Jakarta.
Hingga hari kelulusan, Ashari jarang bicara dengan Arumi. apakah mereka sama sama sibuk karena ujian kelulusan yang di tetapkan dari 3 mata pelajaran, ataukah karena menghindari Arumi karena sudah terlalu malu karena penolakan yang menyebar satu sekolah. Arumi terus bertanya dalam hati, akhirnya penyesalan datang belakangan. Arumi terlambat menyadari bahwa dia mulai kehilangan sosok Ashari yang perhatian dan selalu menjaganya hingga hari kelulusan tiba. Mereka mendaftar sekolah menengah atas yang berbeda beda.
di Tahun pertama sekolah menengah atas, sony masih sering bilang kalo Ashari masih suka menanyakan perihal Arumi. Sony dan Ashari satu SMA sedangkan Adit di SMA yang sama dengan Arumi tapi beda jurusan jadi jarang bertemu
10 tahun kemudian
Setelah lulus kuliah dan sempat bekerja di berbagai tempat, sambil terus mencoba ikut CPNS di kali ke 3 gagal akhirnya dia di terima menjadi PNS di kotanya yang terbilang susah untuk mendapatkan pekerjaan itu, dia di tempatkan dekat dengan kantor wali kota bagian Arsip Tata Kota.
disanalah dia kembali bertemu dengan si Sarang Tawon
" Hi, namaku Ashari, biasa di panggil Hari atau Farid juga ga pa pa" Ucap Ashari mengulang kata katanya sama seperti masa SMP dulu
Mata Arumi tidak berkedip melihat Ashari, ada sedikit sinar yang menyentuh hati Arumi.
“ lagi lagi ga mau kenalan denganku yah, si sarang tawon kan, julukan yang kamu berikan padaku?” Ucap Ashari lagi
“Oh... maaf! Lama tak bertemu, kerja disini ?” Ucap arumi dengan gagap
Dari kejauhan terdengar langkah kaki yang berlari ke arah Ashari
“ Mas, kita makan apa?” Ucap wanita itu
Ashari memperkenalkan mereka satu sama lain, Arumi hanya terdiam melihat Ashari dan Santi berlalu di depannya. Hati Arumi tercabik, cinta yang sudah tumbuh 10 tahun silam kembali menyapa dan pupus seketika. Penyesalan memang sudah tidak ada gunanya.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore, semua rekan kerjanya sudah meninggalkan meja mereka, hanya Arumi yang sedari tadi sibuk menyusun meja kerjanya agar lebih rapi dan membuat nya nyama dalam bekerja.
“ Hi, ga pulang?” Sapa Ashari
“ ga....”
“ mau tidur sini?”
“Ya ga lah, oh ya makasih kado nya, pin nya aku suka. Maaf baru bisa mengucapkan itu, karena baru kali ini aku melihatmu lagi”
“ ya sama sama, sudah masa lalu juga, aku duluan”
“ Hmm...i...ya”
Arumi masih tidak habis fikir kenapa bisa satu kantor dengan Ashari orang yang sudah meninggalkan kesan terdalam padanya. Hingga sekarang Ashari masih ada di dalam ingatan Arumi. Tapi kesempatan untuk mencintainya sudah tidak ada karena Ashari telah menjalin hubungan dengan Santi.
“Arumi kok malas berangkat kerja yah bu!”
“Eh kok gitu. ingat perjuangan mu mendapatkan pekerjaan ini, kok sekarang malah malas kerja. Ada yang mengganggu pikiranmu”
“Ga ada kok bu”
Seketika ibu Arumi memeluknya dan menepuk punggungnya perlahan menenangkan Arumi yang terlihat akan menangis
“Dia..satu kantor denganku bu!” Ucap Arumi sambil sesegukan karena menangis
“Dia...yang ngasih pin gambar artis 10 tahun yang lalu?”
“ iya bu!”
“Loh harusnya senang dong, berarti ini kesempatan Arumi!”
“Sudah terlambat bu!dia sudah punya kekasih”
“Kok terlambat kan masih kekasih, Selama janur kuning belum melengkung masih milik bersama”
“ Tapi kan bu!”
“Sudah sudah kalau jodoh ga kemana, perlakukan dia seperti biasa dan anggap tidak terjadi apa apa, anak ibu pintar nutupin perasaan kok, ya kan?”
“ ya bu, Arumi mandi dulu”
Sampai di halaman parkir, terlihat mobil mewah merah parkir di sampingnya turun lah sosok Ashari dan Santi dari mobil mewah itu. Perasaan Arumi seketika menciut sampai dasar laut.
“ Hi..Arumi” sapa Ashari
“ Hi juga”
Saat Arumi berlalu tangan Arumi seketika di raih oleh Ashari
“ kenapa sih mukanya seperti itu terus dari dulu sampai sekarang? Kelihatan banget kalau benci sama aku.
“ Lepasin tanganku Har, tolong ini di tempat kerja”
“ ini masih di halaman parkir, Cantik”
Perasaan Arumi berkecamuk, antar senang dan sedih, untuk apa Ashari memanggilnya Cantik sedangkan dia sudah punya kekasih.
Arumi menarik tangan nya lalu pergi meninggalkan Ashari
Jam menunjukkan pukul 12 siang semua staff keluar untuk makan siang tapi Arumi hanya makan bekal yang sudah dia bawa dari rumah.
“ kayaknya enak tuh, masak sendiri?”
Suara yang sudah tidak asing itu menyapanya.
“ ga enak “
“ ketus amat sih “
“ ga ke kantin kah? “ ucap Arumi menyegarkan suasana karena sudah sepi seperti kuburan
“ aku ga lapar, pengen kopi aja sih tapi malas keluar sendiri”
“ loh, Santi kemana!”
“ Dia sama teman teman nya tuh ke mall, yang ada cuman kamu disini, tapi kamu lagi makan siang, ya sudah lah aku balik ke mejaku aja lagi, silahkan di lanjutkan”
“ ku temenin kah ?”
“ beneran?”
“Iya”
“Tapi...”
“Tapi apa?”
“ Muka ketus mu tinggal disini aja yah, muka cantik mu aja yang dibawa”
“Apaan sih...”
Ashari menuju parkiran di ikuti oleh Arumi
“ loh beli nya ga di kantin “
“ ya ga lah “
“ aku ga jadi ikut akh..nanti pacarmu marah lagi “
“ sudah,,ayo masuk” Ashari membukakan pintu mobil dan menyuruh Arumi bergegas masuk.
" Pake Safetybeltnya dong!"
Arumi meraih safety beltnya dan tidak sengaja mengenai tangan ashari, mereka saling menatap beberapa detik. Dengan perasaan tidak karuan Arumi menoleh ke arah depan, lalu Ashari melaju dengan kecepatan tinggi. Mereka menuju kedai kopi terdekat dari tempat kerjanya
“Nah aku suka kopi disini”
“Oh..”
“Gimana kabar Adit dan Sony”
“ mereka baik, Adit masih nge lanjutin S2 kalau Sony kerja di tambang”
“ Arumi sudah punya pacar?”
“Aku ga kepikiran kesana!”
“Tegas banget jawabnya, Kenapa?”
“Ga pa pa, ayo kita balik 10 menit lagi jam 1”
“ santai ajah, telat dikit ga pa pa kok”
Arumi bersikeras mengajak Ashari balik ke kantor, karena takut di lontarkan berbagai macam pertanyaan.
Arumi terus menghindari Ashari dia takut menjadi kerikil tajam yang akan merusak hubungan Ashari dan Santi. Arumi hanya bisa memendam perasaannya lagi yang kini muncul kembali setelah sekian lama berhasil dia pendam
" Gimana kabar si Sarang Tawon?"
" namanya Ashari bu"
" Oh ya, ibu lupa!"
" Dia baik bu, bahkan sangat baik tiap siang selalu ke kantin bareng santi"
" sepertinya ibu mencium api cemburu"
" ibu bisa ajah"
" aku takut bu, suatu waktu bom waktu dalam hatiku meledak dan aku akan mencurahkan semua isi hatiku padanya?"
" utarakan saja isi hatimu nak!daripada kamu pendam nanti malah jadi boomerang dalam dirimu sendiri, setidaknya kamu sudah mengutarakan isi hatimu. sisa nya urusan belakangan"
" Arumi kan wanita bu, masa iya Arumi ngomong duluan"
" Zaman sekarang kalau masih memikirkan jenis kelamin keburu di rebut orang loh"
" Nanti saja lah bu"
Arumi memikirkan kata kata ibunya, memang apa salahnya di utarakan toh Arumi tidak berharap apa apa yang penting isi hatinya sudah di ketahui oleh Ashari.
" Hi Ar..."
" Ekh Ashari"
" Ngelamunin apa sih?sampai ga lihat aku lewat?"
" Presentasi proyek tata kota untuk daerah kilo punyaku belum selesai, tenggat waktu nya tinggal 2 hari"
" Punyaku sudah selesai tuh, mau lihat?"
" Ga Akh...nanti aku dikira niru"
" Ya ga bolehlah kalau kamu tiru Ar, ga akan aku izinkan, tapi setidaknya kamu punya bayangan setelah lihat punyaku, gimana?
" Ya juga sih!"
" Oke pulang kerja ikut kerumahku yah!Bay...."
Arumi belum mengatakan setuju mengenai ajakan Ashari, Ashari sudah berlalu pergi. Di benak Arumi mungkin ini kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya
Sepulang kerja Arumi mengikuti Ashari kerumahnya,
" Rumahmu masih disini Har?"
" Ya..Aku masih sama seperti 10 tahun yang lalu begitupun juga rumahku"
"Ow"
" Silahkan masuk, ini Arumi yang dulu yah!"
" Ya bu!"
" Makin cantik yah"
" Makasih bu"
" Ke halaman belakang aja Har, nanti ibu bawakan teh"
" Ya makasih bu" Ucap Ashari
Mereka menuju halaman belakang, dan Ashari mulai memperlihatkan Presentasi nya pada Arumi.
Arumi benar benar tidak fokus mendengarkan ucapan Ashari, dia hanya berfikir ini adalah waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya.
" Aku mau ngomong sesuatu Har?"
" Apa?"
Tapi,
" Hi ada tamu yah!" Ucap Santi yang baru tiba dari kejauhan
Arumi tidak menyangka kalau hubungan mereka sudah sejauh itu, Santi juga terlihat sangat dekat dengan ibunya Ashari, akhirnya Arumi mengurungkan niatnya.
" Mau ngomong apa tadi?"
" Itu...hmm...aku lupa kalau ada acara di rumah tetanggaku hari ini, aku harus kesana, aku sudah melihat presentasimu dan aku punya sedikit bayangan"
" Oke baiklah kalau begitu"
Arumi pamit kepada Ashari, ibunya dan Santi dia bergegas pergi dan memanggil angkot yang lewat
" Kok ga di antar Har?"
" Sepertinya dia buru buru bu"
Setibanya dirumah Arumi langsung membanting dirinya di atas kasur dan menangis. Ibunya yang melihat tingkahnya menghampiri dan memeluknya.
" Arumi nyerah bu!" ucap Arumi sambil terus menangis
" Ya sudah coba buka hatimu untuk pria lain, lupakan dia!"
Arumi masih terus menangis, di iringi alunan musik gendang dari rumah sebelah yang sedang hajatan pernikahan.
“ woy ... mau berangkat kerja Ar?”
“ hai Dit?kapan balik?”
“ Tadi malam, kami sih ga keluar keluar padahal aku ikutan dangdutan tadi malam”
“ ya kah?aku lagi ga enak badan dit, jadi cepet tidur, ya sudah aku berangkat kerja dulu”
“Ya hati - hati Ar”
Arumi berlalu pergi meninggalkan Adit yang sedang duduk di teras rumahnya.
“ siapa tadi dit?” Tanya ibu nya Adit
“ Arumi bu, bu kalau misalnya Arumi jadi menantu ibu, apa ibu mau?”
“ kamu naksir Arumi?”
“ Ya bu!”
“ Bapak dan ibu itu akan bahagia kalau kamu ikut bahagia, tapi melamar nya nanti yah setelah S2 mu selesai dan sudah bekerja “
“ Tenang bu, insha Allah tahun depan aku sudah bisa melamarnya “
Adit sudah pernah mengatakan isi hatinya pada Arumi tapi Arumi tidak pernah menganggap nya serius karena baginya Adit dan Sony adalah teman dekatnya.
Handphone Adit berdering dari kejauhan terdengar Sony sedang menyapanya.
“ lagi liburan dit?” Ucap Sony
“ ya Son, sambil menunggu sidang! Kapan kamu balik, aku pengen ngobrol banyak “
“ minggu depan aku balik!”
“ Ok nanti pas kamu balik kita ngumpul bareng Arumi “
“ ekh ajak Ashari juga, dia satu kantor loh sama Arumi “
“ serius ?”
“ ya, coba tanya Arumi, ya sudah deh kerjaanku masih banyak, Wassalamualaikum”
Adit mulai mencemaskan Ashari yang satu kantor dengan Arumi dia takut kalau cinta monyet mereka jadi cinta beneran, jika selalu bertemu.
“ ayo makan siang Ar!”
“ aku ga lapar “
“ Ayo lah”
“ kenapa ga ajak Santi aja “
“ dia lagi sibuk ngurusin pernikahan “
“ pernikahan ??”
“ ya, kenapa?”
“ kok kamu ga bantuin “
“ nanti pas mendekati hari H baru aku juga sibuk“
“ oh gitu “
Ashari meninggalkan Arumi yang kembali melakukan pekerjaannya, waktu menunjukkan pukul 4 sore, Arumi bergegas pulang. Harapan Arumi benar benar pupus mendengar Ashari akan menikah. Dia tidak habis fikir kenapa semudah itu dia mengatakan soal pernikahannya.
Arumi memasuki kamarnya dan tidak keluar dari kamarnya hingga malam, ibunya menanyakan perihal kenapa dia bersedih lagi.
“ Dia akan menikah bu”
“ kan Ibu sudah bilang untuk melupakannya nak, berarti dia bukan jodohmu”
“ Gini aja dech bu, jika ada yang ingin melamar Arumi, Arumi akan terima saja tanpa pandang bulu”
“ itu namanya pelampiasan “
“ Arumi ga peduli bu, mungkin ini satu satunya cara untuk melupakannya “
“ baik lah, ibu akan terima pinangan yang datang yah, tak peduli tua ataupun muda”
“ ya bu”
Sony kembali dari lokasi, dia menyarankan untuk berkumpul tapi Adit tidak ingin mengajak Ashari
“ kenapa sih, kamu ga mau ajak Ashari?”
“ sebenarnya Son, aku ingin melamar Arumi makanya aku ga ingin mengajak Ashari aku takut cinta monyet mereka menjadi kenyataan “
“ kenapa ga lamar saja “
“ aku belum mapan Son”
“ nanti keburu di lamar orang loh”
“ itu sudah, tapi aku belum punya bekal sekarang, tahun depan aku akan melamarnya “
Mendengar sahabatnya yang sungguh sungguh ingin menikahi Arumi, Sony turut senang dan membagikan berita tersebut kepada Ashari.
“ serius Adit ngomong gitu Son “ tanya Ashari di telepon
“ ya Har, ngapain juga aku bohong, kenapa emangnya ?”
“ ga pa pa “
Ashari tidak habis fikir dengan apa yang baru saja dia dengar. Adit tidak terlihat menyukai Arumi tapi kenapa dia bisa punya rencana untuk melamarnya. Ashari tidak sabar ingin melihat respon Arumi jika mendengar tentang Adit yang akan melamar Arumi tahun depan. Ashari tidak sabar menunggu hari senin, untuk mendengar langsung jawaban Arumi.
Ashari bangun pagi pagi sekali, dia berangkat kerja tanpa sarapan. Ashari segera menuju ruangannya dia melihat Arumi yang sedang fotocopi dan menghampirinya.
“ Arumi, aku mau bicara!”
“ ada apa Har?aku sedang sibuk kita bicara lain kali saja”
Ashari selalu berusaha mengajak Arumi berbicara tapi Arumi selalu sibuk menghindar,
Hingga pada sore hari, Ashari menarik Arumi ke sudut lemari di dalam ruangan kerja mereka, di ruangan itu tinggal mereka berdua yang belum pulang.
“ jika ada yang melamarmu apakah kamu akan menerimanya walau tanpa pacaran?”
Arumi terkejut mendengar pertanyaan Ashari.
Wajah Ashari mendekat ke arah Arumi yang sudah terpojok di dinding seakan Ashari ingin menciumnya.
“ kalau orang nya baik dan aku mengenalnya kenapa tidak, pacaran setelah menikah sepertinya asyik juga “
“ serius kamu Ar?”
“ kenapa sih Har? Urusi saja pernikahan mu yang tinggal menghitung hari!”
“ pernikahanku?”
Ashari heran dengan apa yang baru saja dia dengar. Tidak ingin mendengar lebih banyak ucapan Ashari, Arumi meninggalkannya dengan mimik wajah yang masih terheran dengan apa yang baru saja Ashari dengar. Jam makan siang Arumi bergegas keluar kantor untuk makan siang. Ashari yang melihatnya terburu buru tidak sempat mengejarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Ashari menghampiri Arumi tapi Arumi meninggalkan Ashari tanpa sedikitpun melihat kearah Ashari. Ashari mencoba menghentikan Arumi tapi tidak digubris.
selama perjalanan pulang Ashari memikirkan perbuatan yang dilakukannya pada Arumi, dia merasa tidak melakukan kesalahan tapi kenapa Arumi berubah dan berusaha menghindarinya lalu masalah pernikahan siapa yang di ucapkan Arumi sebelumnya. Ashari tidak merasa apa yang selama ini dilakukannya adalah salah.
"Kenapa yah dia Bu?"curhat Ashari pada ibunya
"Memangnya kenapa?"
"Dia menghindariku, dan dia mengatakan untuk mengurusi pernikahanku, padahal kan aku tidak mau menikah, bagaimana bisa menikah belum mengatakan tiga kata ajaib saja dia sudah menghindariku"
"Coba katakan padanya, apa yang kamu rasakan?siapa tau di menerima kamu jadi bisa menikah sekalian bareng adikmu"
" Ya Bu dan Aku akan langsung melamarnya, aku tidak mau kehilangan dia lagi"
Memikirkan perkataan Sony, Adit jadi takut kehilangan pujaan hatinya, dia memutuskan untuk melamar Arumi.
Hari minggu pagi
"Assalamu'alaikum"
"Ekh Adit, sebentar yah saya panggilkan Arumi"
"Ga usah bu, biar orang tua saya yang berbicara pada ibu"
" Maksud kedatangan kami kesini adalah ingin melamar Arumi untuk Adit bu" Ucap Ayah Adit
" Oh begitu, tapi maaf bu sebelumnya, bagaimana yah saya ngomongnya, semalam Arumi sudah ada yang melamar. dan pertunangannya nanti bulan depan"
Perasaan Adit benar benar hancur, dia tidak menyangka langkahnya telah didahului oleh orang lain.
melihat situasi itu Arumi terheran, padahal dia sudah pasrah jika dia harus menikah dengan Adit. setelah Adit dan keluarganya pergi Arumi meminta penjelasan perihal ucapan ibunya kepada orang tua Adit.
" Siapa yang melamar Arumi bu?"
" Ada orang datang tadi malam saat kamu ke pasar, ibu tidak sempat ngomong karena mukamu pucat dan langsung mengunci kamarmu, ibu juga tidak mengenalnya, tapi sepertinya dia mengenalmu dengan baik"
"Tapi, bu"
"Loh apa ibu salah?kan kamu sendiri yang bilang nak, kalau ada yang melamar terima saja!yah ibu terimalah, orangnya tampan, ramah, orang kaya lagi, lagipula tidak baik menolak lamaran"
" Ya sudahlah bu, lebih baik tidak kenal sama sekali sama orangnya, setidaknya aku sudah punya calon suami sebelum dia menikah"
" Minggu depan dia datang lagi membawakan seserahan nanti kamu bisa bertemu dengannya"
Sony yang mendengar berita Arumi akan bertunangan heran dan segera menanyakan perihal tersebut kepada Arumi.
"Kamu serius Ar, mau bertunangan?terus Adit gimana?"
"Ya, maaf Son, aku belum memberitahu kalian, aku juga nggak nyangka kalau Adit akan melamarku"
"Adit sudah cerita denganku sebelumnya, dia bilang mau melamarmu setelah lulus S2 nya, tapi aku menyarankan untuk melamarmu terlebih dahulu takut di dahului orang lain, ternyata kejadian kan?"
"Ya Son, sampaikan permintaan maafku sama Adit"
Mereka mengakhiri pembicaraan mereka di telepon. Arumi merasa bersalah kepada Adit dia tidak menyangka kalau Adit menaruh hati padanya. Dia bingung harus bagaimana Menyikapi Adit karena Adit Adalah sahabatnya sejak kecil. Rintik hujan menemani kesendirian Arumi di minggu sore ini. Dia sedang memikirkan nasib nya kelak Menjadi istri orang yang tidak dia kenal. Tapi semua sudah terlambat keputusan yang diambil sudah tidak bisa di ganggu gugat.
Arumi masuk kerja dengan mata yang lebam karena tidak bisa tidur, dan berjalan sempoyongan disudut ruang terlihat Ashari yang tertawa lepas bersama teman kantor yang lainnya. Batin Arumi berkata “ bagaimana tidak tertawa lepas pernikahan nya minggu depan, tapi setidaknya aku punya alasan tidak bisa datang ke acaranya karena ada acara seserahan, walaupun acara seserahan itu pada malam harinya”
Saat istirahat siang Arumi menghampiri Ashari yang sedang makan di kantin sendirian.
“ Oh, ya Har maaf yah aku tidak bisa datang di pernikahanmu. Karena aku ada acara penting, maaf”
“ pernikahanku?”
“ maksudnya? Aku loh baru mau pergi melamar”
“ loh undangan yang kamu berikan Kemaren!”
“ kebiasaanmu Ar lihat dong mempelai pria nya siapa”
“ tapi kan Santi?”
“ Santi itu adikku? Dia yang akan menikah?kasihan kan aku di balap nikah, soalnya gadis yang kucintai baru mau kulamar”
“ serius “ jawab Arumi dengan mata tidak bersemangat.
Arumi meninggalkan Ashari yang masih belum menyelesaikan pembicaraannya.
“ jadi selama ini dia mengira aku yang mau menikah? Mungkin dia cemburu” bathin Ashari tersenyum lega.
Arumi kembali menangis tersedu sedu. Ibu nya yang melihat tingkahlakunya seperti itu ikut sedih dan menghampirinya.
“Kenapa lagi?”
“ Arumi salah paham bu, ternyata Santi itu adik kandungnya”
“ benarkah?”
“ Arumi harus gimana bu, lamaran pria itu Arumi tolak aja yah bu?”
“ ga bisa gitu dong sayang, dia sudah mau bawa seserahan loh minggu malam nanti”
“ tapi bu?”
“ kan ibu sudah bilang untuk mengutarakan isi hatimu, kalau begini nasi sudah menjadi bubur, kamu jangan mempermalukan keluarga kita ya Ar”
Arumi kembali menangis dan mengunci kamar nya, keesokan harinya dia tidak berangkat kerja. Dia hanya berada di kamarnya tanpa makan maupun minum.
“Ar, buka pintunya “ Ucap ayah Arumi sambil mengetuk pintu kamar Arumi
Arumi mempersilahkan ayah nya masuk, ayah Arumi menjelaskan kepada Arumi perihal masalahnya.
“ bertemulah dulu dengannya, jangan langsung menikah tapi tunangan saja dulu, kalau misalnya Arumi tidak menyukainya Arumi bisa mengatakan padanya kan? Setidaknya tunangan saja dulu itu tandanya kita menghargai niat baik mereka”
“ baik Yah”
“ sudah makan sana, ibu masak kari terong kesukaan mu!”
Arumi melahap makanannya sendirian, ayah dan ibunya sudah kembali ke pasar tiba tiba telpon nya berdering
“ assalamu’ alaikum” ucap Ashari
“ walaikum salam”
“ kamu sakit Ar?”
“ ya “
“ aku kesana yah!”
“ mau ngapain?”
“Ih jutek banget sih, menjenguk orang sakit lah, emang mau ngapain? Ku bawain bubur kah?”
“ ga aku sudah makan “
“ oke dech Wassalamualaikum “
Ashari mengakhiri pembicaraan mereka di telpon.
“ ih apaan sih ini orang, maksa dikit ke’“
Selang beberapa menit kemudian Ashari tiba dirumah Arumi
“ kamu Har?”
“ kamu kelihatan sehat kok? Alasan aja yah? Ini aku bawain bubur”
“ kan aku sudah bilang kalau aku ga mau bubur “
“ kata Santi, cewek itu kalau ga mau berarti dia mau, benarkan?”
“ ishhh, kenapa sih repot repot”
“ karena aku menyukaimu “
"Maksudnya?"Arumi terheran dengan ucapan Ashari.
“ Aku masih mencintaimu sampai detik ini, dan aku ingin kamu menjadi istriku!Aku tak ingin mendengar penolakan"
Mereka saling menatap dan perlahan Ashari mendekap Arumi kepelukannya dan mencium bibir Arumi, Arumi mengelak dan mendorong Ashari menjauhinya"
“ lepaskan aku Har, minggu depan aku akan lamaran”
“ trus “
Ashari baru menyadari kalau Arumi belum mengetahui kalau dia yang melamarnya. Ashari tersenyum kecil dan mempermainkan Arumi yang sedang menangis.
“ jadi sudah tidak ada kesempatan untukku”
“ maafkan aku Har”
Ashari meninggalkan kediaman Arumi dengan rasa senang bercampur rasa geli membayangkan betapa kagetnya Arumi kelak saat acara lamaran.
“ dia menyukaiku bu!”
“ siapa?”
“ Ashari tadi kesini”
“ terus “
“ Dia tidak mengatakan apa apa bu, setelah ku beritahu perihal lamaranku”
“ sudahlah nak, kalau jodoh mu bukan dia kalian tidak akan bisa bersatu, coba lupakan dia”
Langit seakan runtuh di pangkuan Arumi saat mendengar apa yang dikatakan ibunya. Dia tak mampu membendung air matanya. Arumi hanya bisa pasrah terhadap keputusan itu.
Arumi kembali menjalani rutinitas kesehariannya di tempat kerja. Dia hanya terus mencoba menghindari Ashari, Ashari pun tidak terlalu menyapa Arumi, karena dia tidak ingin rencana untuk mengejutkan Arumi gagal.
Pernikahan santi di gelar di gedung mewah dari pukul 10.00 sampai pukul 15.00, Arumi menghadiri pesta pernikahan Santi menggunakan gaun hitam yang membuat tubuhnya kelihatan seksi, membuat kaum Adam yang di lewatinya menoleh tanpa berkedip. Arumi mengucapkan selamat kepada Santi dan pasangannya serta menaruh kado yang dia bawa di samping Santi, saat menuruni tangga pelaminan Ashari meraih tangannya dan meletakkan jas nya di pundak Arumi. Arumi terheran dengan sikap Ashari
" Kamu ga sadar dari tadi jadi pusat perhatian kaum Adam di sekitar sana "
" Apa pedulimu"
Ashari menarik Arumi dan membawanya masuk ke mobilnya dan mengantarnya pulang. Ashari membuka safety belt yang di pakai Arumi dan mencium kening Arumi, lalu mencium hidungnya dan kemudian bibirnya Arumi hanya bisa pasrah dan terus mengikuti ciuman yang dilakukan Ashari.
" dengar, aku sangat mencintaimu, dan aku ingin hanya kamu yang menjadi istriku "
Arumi hanya terdiam dan segera turun dari mobil Ashari, Ashari hanya tersenyum dan kembali mengendarai mobilnya. Arumi masih shock dengan apa yang baru saja terjadi, dia bingung harus berbuat apa. dia mengganti pakaiannya lalu mengunci kamar dan terus berdoa agar pria yang melamarnya tidak datang.
Waktu menunjukkan pukul 7 Malam, tidak lama terdengar suara mobil parkir sekitar 3 buah mobil, Arumi melihat ke jendela, doa nya tidak terkabul, orang tua Arumi mempersilahkan orang tua Ashari duduk.
" Kami panggil anak kami dulu"
Ibunya membujuk Arumi untuk mengenakan baju kebaya pink yang dibelikan ibunya, dia hanya memoles bibirnya dengan lipstik bewarna senada dengan bajunya. Ibu Arumi menggiring Arumi yang terus saja tertunduk tanpa melihat mempelai prianya.
" kami kemari membawa seserahan berupa, seperangkat alat sholat, pakaian satu set, perlengkapan mandi, perawatan wajah, dan perhiasan emas satu set"
Arumi mengangkat kepalanya
" Maaf pak saya tidak...."
Arumi terkejut melihat senyum yang terpapar dari wajah pria yang duduk di hadapannya, seketika arumi menghentikan ucapannya
" saya tidak apa?" Goda Ashari
" Maaf saya permisi kebelakang!"
" Permisi bu, apa boleh saya susul Arumi"ucap Ashari
" oh Silahkan, sepertinya dia sudah tidak sabar" ucap orang tua ashari
Ashari melihat Arumi sedang berdiri di sudut jendela, terderngar suara tawa dari ruang tamu yang menyadarkan lamunanya dan melihat Ashari sudah berada disampingnya.
" Kamu Marah?"
" gak "
" Maaf yah, maaf banget"
Ashari mendekat dan mencoba memeluk Arumi, tapi
" hmm..belum muhrim!" Ayah Arumi menegur mereka
" oh ya pak, saya kedepan lagi pak"
"Arumi juga keluar sana!"
" Baik Pak"
Suasana lamaran menjadi sangat meriah karena dihadiri banyak tetangga dan teman teman arumi termasuk Adit dan Sony. Adit hanya bisa ikut tersenyum dan memberikan selamat kepada mereka berdua.
" Ar, kita kan sahabat, kemana mana selalu bareng"
" ya...terus"
" Honeymoon Ikut yah"Ucap Sony
" Ngawur" Ucap Ashari dengan nada tinggi
The End

Komentar
Posting Komentar