curhat

10 oktober 2015,

flashback masalalu, lupa ekh dengan password dan email blogq, uddh sering buat blogger sih, tpi ga ditekuni gini nih jadinya, lupa ma password dan email bloggerq generasimudaindonesia.blogpot.com atau apalah sampe lupa nama blognya, dan http://allofthemjadoel.blogspot.co.id/ semua dengan nama yang sama Rubayah Amran

Amran sendiri nama ayahku yang sudah meninggal 21 Februari 2015

aku ingin bercerita tentang hidupku selama 27 tahun,

yah sekarang umurku sudah menginjak 27 tahun seperempat abad lebih. aku terlahir dari keluarga sederhana karena bapak dan mamaku sudah memiliki rumah di kota balikpapan yang terbilang biaya hidup mahal, dari sinilah kisahku berawal, tanpa ku tambah atau ku kurangi, kami punya sebuah rumah di daerah karang anyar, kalo sekarang ku telusuri rumah itu sudah tidak ada lagi, bapakku mencari nafkah dengan berjualan, bapakku karena terlalu sering bergaul dengan orang pasar, beliau salah pergaulan sehingga menjadikan beliau suka membeli nomor(togel kebanyakan disebut orang) usahanya bangkrut, rumah di jual, mamaku sakit-sakitan karena depresi, kami semua pulang kampung untung masih memiliki rumah di kampung sebakung 4 nama desanya. sempat setahunan ibuku sakit2an kami benar - benar hidup susah hanya berharap dari tanaman padi, kami hanya punya beras, benar - benar melekat di ingatanku ibuku yang terbaring sakit dan kami sangat kelaparan, ayahku yang juga lapar kulihat didapur sedang makan nasi hangat dengan garam dan minyak goreng, enak sekali kurasa. kami makan bertiga. okh ya, sebenarnya kami 6 bersaudara aku anak terakhir kakaku yang pertama kelas 5 SD meninggal karena guna - guna. guna-guna yang nyasar ke dia yang sebenarnya ditujukan untuk tanteku karena telah menolak lamaran orang secara kasar(cerita dari neneku) 2 kakak perempuanku meninggal di umur seminggu karena dimakan kuyang. ayahku tidak percaya dengan hal mistis, tapi karena sudah 2 anak yang terenggut akhirnya mereka pindah dan dapat memiliki anak lagi yaitu kaka laki lakiku yang terbilang kaka tertua sekarang ini.karena seorang nenek pintar berkata, seberapapun anak yang kau miliki akan habis jika kau masih tinggal dikontrakan ini, itu terjadi ketika mereka belum memiliki rumah. selama ibuku sakit ketika tersadar sejenak dia selalu berteriak "turunkan karung besar itu, banyak barangku disana", ketika dia sudah berteriak itu sambil menunjuk kearah atas aku berdua kaka perempuanku sebut saja rusna kami bertiga dengan nenekku ibu dari ibuku mengajakku masuk kedalam kelambu(pelindung tidur seperti tenda) makanya sampai sekarang aku takut memakai kelambu. okh ya, waktu kami pulang kampung kakaku ali tidak ikut dengan kami karena dia sudah bersekolah dan dia dititipkan di tempat saudara sepupu ayahku yang rumahnya seperti pesantren. ibuku meninggal saat umurku 2 tahun, setelah itu nenekku yang merawat aku dan kak rusna, ayahku pergi merantau ntah kemana tanpa ada kabar selama beberapa tahun kak ali tidak tahu penderitaan kami,yang mencari uang dengan berjalan kaki dari sebakung 4 sampai gang ali sekitar 10 kiloan, mengantar kue buatan nene, nama kuenya lasapi dan kue cincin yang berbahan dasar tepung-tepungan dan gula merah ke warung haji ali d ujung jalan masuk Gang Ali. sekarang warung itu sudah berubah jadi rumah seperti istana di gang ali tersebut haji ali juga sudah meninggal tinggal anaknya saja yang menempati rumah itu sekarang. setelah ibuku meninggal. saat umur ku 6 th dan kak rusna 9 tahun. nenekku bingung ingin menyekolahkan kami, karena nenekku tidak mau kami menjadi anak yang susah kelak dia ingin kami sukses. akhirnya tante dan omku yang tinggal di balikpapan memanggil kami untuk tinggal disana. aku ikut dengan tanteku dengan membantunya berjualan, mengangkutkan air karena warung tanteku tidak memiliki saluran air. Jika kami ingin makan bakso karena tak enak meminta uang pada om dan tante yang sudag membiayai hidup kami, kami mengupas bawang merah dengan upah 50 perak sekilo. bakso waktu itu masih 200 perak. kami sudah sangat senang karena sudah disekolahkan dan diberi tempat tinggal. nenekku membuat tape ketan putih dan dijual juga untuk membeli buku LKS, karena waktu SD itu harus memiliki buku LKS.kelas 2 SD ayahku kembali, kembali berjualan singkong di pasar rapak, ayahku bilang kami harus tinggal sama tante kami sampai dia ngontrak rumah ntah dimana ayahku tidur jika malam.

aku sangat dekat dengan nenekku selama ini dan kuanggap sebagai ibuku, sangking dekatnya aku selalu bersama dengan nenekku dan tidur harus dengannya.

tidak lama setelah kepulangan ayahku, kami daftar sekolah dan ayah menikah lagi dengan janda 5 anak. ibu tiri ku sebut saja ibu sri, sangat baik dan tidak membeda-bedakan kami. aku mulai tinggal dengan ibu tiriku dan ayah serta ka rusna. nenek masih di tempat tante. yang rumah kami hanya berjarak 50 meter. setiap pulang sekolah aku masih sering ketempat tante untuk membantu

masakan nene yang paling aku suka itu talam ebi dan sagu goreng pake ikan asin(kalau sekarang aku coba buat ga bisa sama rasanya) ntah bumbu apa yang dipakai atau tekhnik apa yang dipakai hingga rasanya jauh berbeda

Kelas 5 SD nenekku pulang ke Rahmatullah masih melekat di benakku..saat itu hari jumat aku sedang mengecat kamar di loteng yang baru dibuatkan oleh bapakku(kontrakan) om toni orang yang tinggal bersama tanteku muncul dari tangga"coba lihat lihat nenekmu disana" tanpa tahu apa-apa aku langsung ke tempat tante dan ternyata nenekku sudah tiada, aku bingung kenapa waktu itu aku tidak menangis??apa karena aku melihatnya tersenyum dalam kematiannya.

seiring berjalan nya waktu aku bersekolah dengan biaya yang disiapkan ayahku, jualannya laris dan termasuk orang berada di antara orang pasar lainnya.

Kelas 3 SMP, aku sudah memiliki handphone yang terbilang mahal kala itu Hape Nokia 3315 seharga 700.000 dibayarkan secara kredit, saat itu aku tidak tahu kalau keuangan ayahku perlahan mulai memburuk.

Lulus SMP puncak dari keterpurukan melanda keluarga kami, Hape yang kreditan nya belum selesai di tarik karena sudah berapa bulan tidak di bayar.

aku dan kakakku sudah merasakan keterpurukan yang di alami bapakku, jadi kami tidak pernah sedikitpun merepotkannya

Suatu Malam

"Pak, Boleh minta uang foto Rp 7.000 untuk kelengkapan data masuk SMA?"

Bapakku terdiam..melihatnya terdiam aku kembali ke kamar dan menceritakan apa yang terjadi kepada Kak Rusna

tidak lama bapak menghampiri kami di kamar dan mengatakan bahwa

"ga usah lanjut sekolah yah nak, uang untuk cuci foto aja bapak ga sanggup berikan, apalagi bayar uang sekolah"

seketika aku menangis tersedu, dan tak sanggup menghadapi kenyataan apa yang akan aku lakukan jika aku tidak sekolah, mau jadi apa kalau cuman lulusan SMP

kakakku yang terlihat kuat menarikku,

"Ayo kita cuci foto sendiri minta uang kak Ali, urusan bayar sekolah nanti saja dipikirkan"

Pas di depan rumah Kak Ali datang dan menanyakan perihal mengapa aku menangis. Kami menceritakan semua yang terjadi padanya

"Sudah ga usah nangis, Daftar sudah besok nanti kakak yang tanggung semua biayanya"

akhirnya kami pun bisa bersekolah dengan bantuan kak ali, masalah kami tidak sampai disitu

bapak dan ibu pindah ke kota lain, dan kami dititip dirumah tante.

terkadangan saya masih ga nyangka dan ga habis pikir kalau mengingat perjalanan kami tiga bersaudara yang sudah berjuang sejak masih anak anak.





Komentar

Postingan Populer